Laman

Jumat, 03 Februari 2012

Laporan Sosiologi Pedesaan

HALAMAN ASISTENSI
                                                                             
Laporan ini telah diperiksa dan telah disetujui dan dapat digunakan sebagai syarat untuk mengikuti FINAL TES.
                                                                                      Parepare, 28 Desember 2011

Mahasiswa                                                   Asisten

Akbar                                                           Fitriani
                          NIM: 210 140 031                                       NBM: 208 140 002


Dosen Mata Kuliah

Nurhaeda S.pt, M.Si
                                                                 NIDN/NBM:09250776





KATA PENGANTAR

            Alhamdullillahi rabbil alamin, segala puji hanya bagi Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga laporan praktek ini dapat terselesaikan pada waktunya. Tidak lupa penulis panjatkan salam dan taslim kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah memberi pencerahan spiritual dan ilmu sehingga umat manusia telah terhindar dari kejahiliyahan kaum terdahulu.
            Dengan selesainya laporan praktikum ini, maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Ibu Nurhaeda,S.Pt, M.Si selaku dosen pembimbing dan Kakanda Fitriani pada mata kuliah Sosiologi Pedesaan yang telah memberikan dan membantu baik dalam penyusunan laporan maupun dalam prakteknya. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam penyusunan laporan ini baik dalam bentuk moril maupun materil.
            Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih terdapat kekurangan dan keterbatasan, oleh karena itu saran dan masukan serta kritikkan yang bersifat membangun sangat diharapakan untuk tercapainya kesempurnaan penulisan selanjutnya.
                                                                                    Parepare, 28 Desember 2011


                                                                                                Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sosiologi pedesaan merupakan salah satu cabang sosiologi yang mempelajari dan menganalisis budaya masyarakat pedesaan secara sosiologis, yang meliputi organisasi dan struktur, nilai-nilai dan proses-proses sosial dan juga termasuk perubahan-perubahan sosial. Objek kajian dari studi sosiologi pedesaan adalah masyarakat desa dengan pola-pola kebudayaan yang ada di desa tersebut. Desa merupakan satuan administratif yang diatur oleh pemerintah, selain itu desa diartikan sebagai suatu sistem yang merupakan suatu kesatuan yang utuh, terbentuk secara berkesinambungan dalam kurun waktu yang relatif lama.
Masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah dengan batas-batas tertentu dimana faktor utama yang menjadi dasar adalah interaksi yang lebih besar diantara para anggota-anggota dibanding dengan masyarakat atau penduduk di luar batas wilayahnya.
Lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan norma-norma segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Pada era otonomi daerah, lembaga desa dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dengan peraturan-peraturan. Adapun  fungsi lembaga kemasyarakatan adalah: Memberikan pedoman pada anggota masyarakat bagaimana mereka harus bertingkah laku, bersikap dalam menghadapi suatu masalah yang timbul di masyarakat, menjaga keutuhan masyarakat, memberikan pegangan masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (sosial control).
Yang termasuk dalam lembaga masyarakat adalah lembaga yang dibentuk baik dalam masyarakat itu sendiri maupun lembaga lain yang sudah ada dalam pemerintahan khususnya pemerintahan desa. Lembaga kemasyarakatan dianggap sebagai yang sungguh berlaku apabila norma-normanya sepenuhnya membentuk pelaksanaan pola-pola kemasyarakatan. Perilaku perseorangan yang dianggap sebagai peraturan merupakan hal sekunder bagi lembaga kemasyarakatan.
B.  Tujuan dan Manfaat
Tujuan                                                                              
1.      Mengetahui kehidupan sosial masyarakat tani yang ada di pedesaan.
2.      Menambah wawasan terhadap mahasiswa tentang bagaimana caranya untuk menghadapi  masyarakat tani yang ada di pedesaan.
3.      Bagaimana caranya agar para petani dapat bercocok tanam dengan baik.
4.      Dapat mencapai ketuntasan belajar pada materi ilmu sosial dasar.
Manfaat
1.      Untuk mencari informasi-informasi tentang kehidupan masyarakat tani yang ada di pedesaan.
2.      Menambah wawasan pola pikir kepada mahasiswa dalam berusaha tani.
3.      Melatih mahasiswa dalam menghadapi para petani yang ada di pedesaan.
4.      Menambah referensi bagi para mahasiswa yang berminat membuat laporan -laporan praktek.
5.      Sebagai media informasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Ilmu Sosiologi Pedesaan
Menurut Munandar masyarakat pedesaan, yaitu masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah tertentu dimana faktor utama yang menjadi dasar adalah interaksi yang lebih besar diantara para anggota dibanding dengan penduduk di luar batas wilayah. Tempat tinggal masyarakat pedesaan ialah desa, menurut Munandar desa itu sendiri merupakan suatu tempat persekutuan hidup dan kesatuan sosial berdasarkan atas beberapa macam prinsip, yaitu kebutuhan khusus ekologi. Menurut Leibo tipe-tipe desa berdasarkan perkembangan masyarakat ada beberapa macam yaitu:
1.      Desa Tradisional.
2.      Desa Pancasila.
3.      Desa Swassembada.
4.      Desa Swadaya.
5.      Desa Swakarya.
Lembaga sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Suatu lembaga kemasyarakatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dari manusia, pada dasarnya mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
1.      Memberikan pedoman pada anggota-anggota masyarakat, bagaimana mereka harus bertingkah      laku atau bersikap di dalam menghadapi segala masalah-masalah dalam masyarakat terutama menyangkut kebutuhan-kebutuhan yang bersangkutan.
2.      Menjaga keutuhan dari masyarakat yang bersangkutan.
3.   Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial yaitu artinya sistem pengawasan dari masyarakat terhadap anggota-anggotanya.
Hubungan antar manusia di dalam suatu masyarakat dapat terlaksanakan sebagaimana diharapkan, maka diciptakan norma-norma di dalam masyarakat untuk dapat membedakan kekuatan mengikat daripada norma-norma tersebut, dikenal adanya empat pengertian, yaitu cara, kebiasaan, tata kelakuan dan adat istiadat. Di dalam kehidupan sistem sehari-hari sistem pengendalian sosial diartikan sebagai pengawasan oleh masyarakat terhadap jalannya pemerintahan, khususnya pemerintah beserta aparaturnya. Pengendalian sosial bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara stabilitas dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Beberapa ciri-ciri umum dari lembaga kemasyarakatan sebagai berikut:
1.  Suatu lembaga kemasyarakatan yaitu suatu organisasi dari pola-pola pemikiran dan pola-pola perilaku yang berwujud melalui aktivitas kemasyarakatan dan hasil-hasilnya.
2.      Suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri dari semua lembaga kemasyarakatan.
3.     Lembaga kemasyarakatan mempunyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan.
4.      Lambang-lambang biasanya juga merupakan ciri-ciri yang khas dari lembaga kemasyarakatan.
Seorang sosiologi di dalam menelah masyarakat, akan banyak berhubungan dengan kelompok-kelompok sosial, baik yang kecil maupun kelompok sosial yang besar. Sebagai sosiologi dia merupakan salah satu anggota kelompok tersebut maupun sebagai seorang yang meneliti kehidupan kelompok secara ilmiah.
Suatu kelompok sosial tidak merupakan yang statis, akan tetapi selalu berkembang serta mengalami perubahan-perubahan yang baik dalam aktivitas maupun bentuknya. Suatu aspek yang menarik dari kelompok sosial adalah bagaimana cara mengendalikan anggota-anggotanya.
Bentuk-bentuk lapisan dalam masyarakat berbeda-beda, akan tetapi lapisan tersebut tetap ada dalam masyarakat yang kapitalis, demokratis dan komunis. Bentuk konkrit dari lapisan-lapisan di dalam masyarakat diklasifikasikan ke dalam tiga macam kelas yaitu: ekonomis, politis dan yang didasarkan pada jabatan-jabatan tertentu di dalam masyarakat. Umumnya ketiga bentuk pokok tadi mempunyai hubungan yang erat satu sama lain.
Gotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan yang hasilnya akan dirasakan bersama, maupun pekerjaan salah seorang warga desa atau dikenal sebagai sambatan, serta musyawarah dalam memecahkan masalah bersama, kedua-duanya merupakan contoh kerukunan dan keserasian hidup ini tidak hanya terjadi antar manusia, dengan lingkungan hidupnya pun terjadi hubungan yang serasi. Tidak pernah terjadi masalah pencemaran air atau pengotoran udara merupakan bukti yang kuat adanya keserasian hubungan antar manusia dengan alam lingkungannya.
Ciri umum lembaga kemasyarakatan desa adalah:
1.      Lembaga kemasyarakatan terdiri dari adat istiadat, tata kelakuan, kebiasaan serta unsur-unsur kebudayaan lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung tergabung dalam suatu unit yang fungsional.
2.      Lembaga kemasyarakatan memiliki satu atau beberapa tujuan tertentu.
3.      Lembaga kemasyarakatan biasanya juga berumur lama, karena pada umumnya orang menganggap sebagai himpunan norma yang berkisar pada kebutuhan pokok masyarakat yang sudah sewajarnya harus dipelihara.
4.      Lembaga kemasyarakatan memiliki tradisi tertulis yang merumuskan tujuan tata tertib yang berlaku.
5.      Lembaga kemasyarakatan memiliki ciri khas berupa lambang, yang menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga yang bersangkutan.
6.      Lembaga kemasyarakatan memiliki alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan lembaga.
B.  Manfaat Sosiologi Pedesaan Bagi Masyarakat Pedesaan
 Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, tidak lain adalah seperangkat fakta sosial yang terkristal dalam bentuk teori, konsep, cara pandang yang digunakan sebagai tools atau pisau analisis untuk mencari dan menelusuri kebenaran-kebenaran yang nampak (realitas) maupun tidak nampak (peramalan) dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, dapat ditelusuri secara hakekat dari aspek epistimologi, ontologi, maupun aksiologi sebagai suatu pemikiran yang konprehensif untuk menelusuri, mencari dan memperediksi gejala sosial yang terjadi di masyarakat.
JF. Ferrier merupakan seorang filsuf yang pertama kali melakukan pembedaan antara ontologi dan epistimologi pada tahun 1854 (Hunnex, 2004).  Ontologi menurutnya adalah bagaimana mempertanyakan apa realitas yang ada, sedangkan epistimologi merupakan teori pengetahuan yang menanyakan dengan apa manusia bisa mengetahui.  Adapun aksiologi lebih berbicara tentang sumber nilai, yang di dalamnya terkandung epistimologi dan ontologi secara bersamaan.
Dalam bingkai di atas, Kattsoff (2004) dalam bukunya yang berjudul ”Pengantar Filsafat” menguraikan empat paham untuk mengungkapkan cara manusia bisa mengetahui suatu realitas (epistimologi).  Adapun keempat teori yang dimaksud, sebagai berikut:
1.      Teori Koherensi (Coherence Theory), yakni suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan proposisi-proposisi lainnya yang benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita.  Atau dengan kata lain, paham ini mengatakan bahwa derajat keadaan saling berhubungan merupakan ukuran bagi derajat kebenaran, sedangkan keadaan saling berhubungan dengan semua kenyataan memberikan kebenaran mutlak.
2.      Teori Korespondensi (Correspondence Theory), yakni suatu pernyataan itu benar jika makna yang dikandungnya sungguh-sungguh merupakan halnya.  Kebenaran atau keadaan berupa kesesuaian antara makna yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh merupakan halnya, atau apa yang merupakan fakta-faktanya.
3.      Teori Empiris (Empirist Theory), yakni memandang proposisi bersifat meramalkan (predictive) atau hipotetis dan memandang kebenaran proposisi sebagai terpenuhinya ramalan-ramalan.
4.      Hylomorfisme, yakni kejadian-kejadian sebagai bentuk kenyataan yang ada disekeliling manusia terdiri dari bahan dan bentuk.  Dengan kata lain, terdapat esensi dan eksistensi dalam diri setiap manusia dalam membentuk kenyataan yang ada disekelilingnya.
5.      Positivisme logis, yakni pandangan yang mendasarkan diri pada penalaran akal dan semuanya memakai perangkat fakta yang sama sebagai landasan penopang untuk menunjukkan kebenarannya.  Dengan demikian, ontologi positivisme logis meniadakan atau menolak segala bentuk yang berbau metafisika.
Slattery (2003) dalam bukunya yang berjudul ”Key Ideas in Sociology” kembali menegaskan bahwa sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, dapat dicermati dari beragam isu, meliputi ketertiban sosial dan perubahan, kekuasaan dan penguasaan sosial, ketidak merataan dan stratifikasi sosial.
Dari semua itu, Slattery (2003), kemudian merangkumnya berdasarkan pandangan dari tokoh sosiologi, yakni:                                                  
1.      Aguste Comte, sebagai “bapak” sosiologi peletak positivisme berpendapat bahwa sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada logika penalaran.                                                       
2.      F. Tonnies dengan konsep “gemmeinschaftgesselschaff” untuk mengkaji “The Lass of Communty in Industrial Society”, yakni studi tentang komunitas dan sosiologi masyarakat kota.                     
3.      Robert Michels mengkaji tentang sosiologi kekuasaan, khususnya elit penguasa sebagai fokus utama sosiologi modern.             
4.      George Herbert Mead, peletak dasar teori interaksi simbiolisme.
5.      E. W. Teller mengembangkan konsep kunci tentang perdebatan sosiologi industri.
C.  Keadaan Umum Masyarakat Tani di Indonesia         .                                                           
Hubungan antar manusia memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, hubungan itu dapat terjadi dengan adanya interaksi yang beraneka ragam pada kehidupan manusia dalam berbagai lingkup seperti lingkungan keluarga, lingkungan sosial dan lingkungan organisasi disekitarnya. Bentuk dari interaksi tersebut adalah kegiatan komunikasi. Pada masyarakat pedesaan komunikasi dengan cara tatap muka merupakan komunikasi yang efektif, selain sebagai ajang silaturrahmi komunikasi itu dapat meningkatkan rasa persaudaraan diantara sumber dan penerima. Namun masyarakat pedesaan yang mempunyai sanak saudara agak jauh dari tempat tinggalnya, mereka cenderung tidak mengunjungi sanak saudaranya setiap hari. Mereka hanya akan mengunjunginya jika ditempat sanak saudaranya mempunyai hajatan yang besar seperti pernikahan. Hal itu disebabkan biaya transportasi untuk ke tempat sanak saudaranya  terlalu banyak, padahal masyarakat pedesaan rata-rata penghasilannya tidak besar.
Masyarakat sebagai suatu sistem oleh Sajogyo (1971) terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan serta berintergrasi fungsional. Sistem yang dimaksudkan terdiri dari pola-pola kebudayaan dan struktur sosial yang selalu berada dalam keseimbangan dinamis, dalam artian bahwa integrasi antar bagian-bagian tersebut tidak pernah tercapai secara penuh sehingga masyarakat selalu dalam keadaan dinamis. Kehidupan masyarakat tidak lepas dengan adanya interaksi antar individu dipedesaannya. Karena dengan berinteraksi akan menimbulkan hubungan-hubungan yang dinamis dan harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Telekomunikasi merupakan sarana yang menunjang keberhasilan interaksi masyarakat pedesaan dalam berkomunikasi.  Dalam penerapan teknologi tersebut, masyarakat akan mempunyai sikap dalam melihat teknologi yang masuk ke wilayah mereka. Masyarakat akan memilih teknologi yang memberikan manfaat dan dampak yang positif untuk kehidupan sehari-hari.


BAB III
METODELOGI PRAKTEK LAPANG
A.  Waktu dan Tempat
Kegiatan praktek lapang terpadu dilaksanakan pada tanggal 18 November sampai dengan 20 November 2011, tepatnya di Desa Kanreapia Kecamatan Tinggi Moncong Kabupaten Gowa.
B.  Alat dan Bahan
       Adapun alat yang digunakan dalam praktek lapang adalah:
1.      Pulpen.
2.      Kamera Digital.
3.      Handphone (Hp).   
Bahan yang digunakan dalam praktek lapang adalah :
                                                                                            
·         Buku;                                                                                                                                                                     
·         Kuisioner.        
C.  Metode Praktek Lapang
Metode yang digunakan dalam praktek lapang sosped adalah:
·         Sediakan pulpen dan kuisionernya;
·         Tanyakan kepada responden mulai dari nama, umur, tingkat pendidikan dan pengalaman berusaha tani serta jumlah keluarga;
·         Tanyakan status kepemilikan lahan kepada petani tersebut;
·         Tanyakan kepada petani bahwa jenis tanaman apa sajakah yang ditanam di   lokasi tersebut;
·         Tanyakan berapa hektar lahan yang dipakai oleh para petani dalam bercocok tanam;
·         Tanyakan penghasilan mereka per panennya dan gaji per hari kepada buru tani;
·         Berapa ton yang diperoleh dalam satu kali panen.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Keadaan Umum Lokasi Praktek
Berdasarkan hasil keadaan umum di lokasi praktek yang kita ketahui, keseluruhan penduduk di sana berjumlah 2.700 orang dan 80% diantaranya berpropesi sebagai petani, 10% sebagai pedagang dan 10% sebagai pegawai, hasil ini dapat kita ketahui berdasarkan informasi-informasi dari sejumlah responden yang telah kita tanyakan pada saat kita melakukan praktek lapang dan untuk lebih jelasnya lagi dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
No
Jumlah Penduduk
Jenis Tanaman
Jumlah Klp Tani
Status Masyarakat
Keadaan Lingkungan
1.
2.700 Orang
Kentang
1.000
80% Petani
Suhu 21°c - 25°c
2.

Wortel
5 Wanita
10% Pedagang
PH Tanah
3.

Daun Bawang
3 Pemuda
10% Pegawai

4.

Kubis



5.

Tomat



B.  Keadaan Umum Petani Pedesaan
          Keadaan umum petani pedesaan dapat kita ketahui berdasarkan data-data dari masing-masing responden yang telah kita temui di lokasi praktek lapang dan untuk lebih jelasnya lagi dapat kita lihat pada tabel berkiut ini:
No
Nama
Umur
Tingkat Pendidikan
Pengalaman Bertani
Jumlah/Tanggungan Keluarga
1.
Titin
30 tahun
SMA
2 tahun
4 orang
2.
Sudirman
26 tahun
SD
10 tahun
3 orang
3.
Ida
35 tahun
SD
2 tahun
6 orang
4.
Ramli
42 tahun
SMP
14 tahun
4 orang
5.
Fendi
23 tahun
SMP
2 tahun
3 orang
6.
Irwan
32 tahun
SMP
2 tahun
2 orang
7.
Hamka
33 tahun
SMA
6 tahun
4 orang
8.
Fauzia
35 tahun
SMA
7 tahun
2 orang
9.
Dahlia
30 tahun
-
20 tahun
5 orang
10.
Zaid
50 tahun
SMA
15 tahun
4 orang
11.
Lajuma
43 tahun
SD
4 tahun
6 orang
12.
Umar
45 tahun
SD
25 tahun
3 orang
13.
Raga
45 tahun
SD
1 tahun
4 orang
14.
Abd. Haliq
35 tahun
SMA
20 tahun
1 orang
15.
Mina
30 tahun
-
14 tahun
5 orang
16.
Tambi
27 tahun
SMP
3 tahun
2 orang
17.
Sakkir
28 tahun
SMP
5 tahun
3 orang
18.
Limpo
42 tahun
-
20 tahun
4 orang
19.
Japar
30 tahun
SMA
8 tahun
2 orang
20.
Taming
34 tahun
SMA
14 tahun
5 orang

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
Masyarakat Malino dengan jumlah penduduk 2.700 orang tidak ada yang menjadi pengangguran karena mereka bekerja sebagai tuan tani dan ada pula yang bekerja sebagai buruh tani.
B.  Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis menyaranka agar pada saat pembudidayaan tanaman sayur-sayuran jangan terlalu banyak menggunakan pupuk kimia dan jangan pula menggunakan media tumbuh yang keras karena sulit untuk menyerap air.                                   

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Rahardjo, M. Dawan. 2006. Menuju Indonesia Sejahtera: Upaya Konkret Pengentasan Kemiskinan. Jakarta: Pustaka LP3ES
Salam, Dharma Setyawan. 2007. Otonomi Daerah: Dalam Perspektif Lingkungan, Nilai, dan Sumber Daya. Jakarta: Djambatan.
Sham, Tuti T dan Sam M. Chan. 2006. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Rangkuti, Parlaungan adil. 2007. Membangun Kesadaran Bela Negara. Bogor: IPB Press.
Pattimura, Luthfi. 2001. Manajemen Otonomi Daerah. Jakarta: Pustaka LSKPI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar