HALAMAN ASISTENSI
Laporan ini telah diperiksa dan telah disetujui dan dapat digunakan sebagai syarat untuk mengikuti FINAL TES.
Parepare, 28 Desember 2011
Mahasiswa Asisten
Akbar Fitriani
NIM: 210 140 031 NBM: 208 140 002
Dosen Mata Kuliah
Nurhaeda S.pt, M.Si
NIDN/NBM:09250776
KATA PENGANTAR
Alhamdullillahi rabbil alamin, segala puji hanya bagi Allah SWT, atas
limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga laporan praktek ini dapat
terselesaikan pada waktunya. Tidak lupa penulis panjatkan salam dan
taslim kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah memberi pencerahan
spiritual dan ilmu sehingga umat manusia telah terhindar dari
kejahiliyahan kaum terdahulu.
Dengan selesainya laporan praktikum ini, maka pada kesempatan ini
penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Ibu Nurhaeda,S.Pt, M.Si
selaku dosen pembimbing dan Kakanda Fitriani pada mata kuliah Sosiologi
Pedesaan yang telah memberikan dan membantu baik dalam penyusunan
laporan maupun dalam prakteknya. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih
kepada pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam penyusunan laporan ini
baik dalam bentuk moril maupun materil.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih terdapat
kekurangan dan keterbatasan, oleh karena itu saran dan masukan serta
kritikkan yang bersifat membangun sangat diharapakan untuk tercapainya
kesempurnaan penulisan selanjutnya.
Parepare, 28 Desember 2011
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sosiologi
pedesaan merupakan salah satu cabang sosiologi yang mempelajari dan
menganalisis budaya masyarakat pedesaan secara sosiologis, yang meliputi
organisasi dan struktur, nilai-nilai dan proses-proses sosial dan juga
termasuk perubahan-perubahan sosial. Objek kajian dari studi sosiologi
pedesaan adalah masyarakat desa dengan pola-pola kebudayaan yang ada di
desa tersebut. Desa merupakan satuan administratif yang diatur oleh
pemerintah, selain itu desa diartikan sebagai suatu sistem yang
merupakan suatu kesatuan yang utuh, terbentuk secara berkesinambungan
dalam kurun waktu yang relatif lama.
Masyarakat
pedesaan merupakan masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah
dengan batas-batas tertentu dimana faktor utama yang menjadi dasar
adalah interaksi yang lebih besar diantara para anggota-anggota
dibanding dengan masyarakat atau penduduk di luar batas wilayahnya.
Lembaga
kemasyarakatan merupakan himpunan norma-norma segala tingkatan yang
berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Pada
era otonomi daerah, lembaga desa dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan
kebutuhan desa dan ditetapkan dengan peraturan-peraturan. Adapun fungsi
lembaga kemasyarakatan adalah: Memberikan pedoman pada anggota
masyarakat bagaimana mereka harus bertingkah laku, bersikap dalam
menghadapi suatu masalah yang timbul di masyarakat, menjaga keutuhan
masyarakat, memberikan pegangan masyarakat untuk mengadakan sistem
pengendalian sosial (sosial control).
Yang
termasuk dalam lembaga masyarakat adalah lembaga yang dibentuk baik
dalam masyarakat itu sendiri maupun lembaga lain yang sudah ada dalam
pemerintahan khususnya pemerintahan desa. Lembaga kemasyarakatan
dianggap sebagai yang sungguh berlaku apabila norma-normanya sepenuhnya
membentuk pelaksanaan pola-pola kemasyarakatan. Perilaku perseorangan
yang dianggap sebagai peraturan merupakan hal sekunder bagi lembaga
kemasyarakatan.
B. Tujuan dan Manfaat
Tujuan
1. Mengetahui kehidupan sosial masyarakat tani yang ada di pedesaan.
2. Menambah wawasan terhadap mahasiswa tentang bagaimana caranya untuk menghadapi masyarakat tani yang ada di pedesaan.
3. Bagaimana caranya agar para petani dapat bercocok tanam dengan baik.
4. Dapat mencapai ketuntasan belajar pada materi ilmu sosial dasar.
Manfaat
1. Untuk mencari informasi-informasi tentang kehidupan masyarakat tani yang ada di pedesaan.
2. Menambah wawasan pola pikir kepada mahasiswa dalam berusaha tani.
3. Melatih mahasiswa dalam menghadapi para petani yang ada di pedesaan.
4. Menambah referensi bagi para mahasiswa yang berminat membuat laporan -laporan praktek.
5. Sebagai media informasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Ilmu Sosiologi Pedesaan
Menurut
Munandar masyarakat pedesaan, yaitu masyarakat yang bertempat tinggal
di suatu wilayah tertentu dimana faktor utama yang menjadi dasar adalah
interaksi yang lebih besar diantara para anggota dibanding dengan
penduduk di luar batas wilayah. Tempat tinggal masyarakat pedesaan ialah
desa, menurut Munandar desa itu sendiri merupakan suatu tempat
persekutuan hidup dan kesatuan sosial berdasarkan atas beberapa macam
prinsip, yaitu kebutuhan khusus ekologi. Menurut Leibo tipe-tipe desa
berdasarkan perkembangan masyarakat ada beberapa macam yaitu:
1. Desa Tradisional.
2. Desa Pancasila.
3. Desa Swassembada.
4. Desa Swadaya.
5. Desa Swakarya.
Lembaga
sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat
kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan
khusus dalam kehidupan masyarakat. Suatu lembaga kemasyarakatan yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dari manusia, pada
dasarnya mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
1. Memberikan
pedoman pada anggota-anggota masyarakat, bagaimana mereka harus
bertingkah laku atau bersikap di dalam menghadapi segala masalah-masalah
dalam masyarakat terutama menyangkut kebutuhan-kebutuhan yang
bersangkutan.
2. Menjaga keutuhan dari masyarakat yang bersangkutan.
3. Memberikan
pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial
yaitu artinya sistem pengawasan dari masyarakat terhadap
anggota-anggotanya.
Hubungan
antar manusia di dalam suatu masyarakat dapat terlaksanakan sebagaimana
diharapkan, maka diciptakan norma-norma di dalam masyarakat untuk dapat
membedakan kekuatan mengikat daripada norma-norma tersebut, dikenal
adanya empat pengertian, yaitu cara, kebiasaan, tata kelakuan dan adat
istiadat. Di dalam kehidupan sistem sehari-hari sistem pengendalian
sosial diartikan sebagai pengawasan oleh masyarakat terhadap jalannya
pemerintahan, khususnya pemerintah beserta aparaturnya. Pengendalian
sosial bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara stabilitas dengan
perubahan-perubahan dalam masyarakat. Beberapa ciri-ciri umum dari
lembaga kemasyarakatan sebagai berikut:
1. Suatu
lembaga kemasyarakatan yaitu suatu organisasi dari pola-pola pemikiran
dan pola-pola perilaku yang berwujud melalui aktivitas kemasyarakatan
dan hasil-hasilnya.
2. Suatu tingkat kekekalan tertentu merupakan ciri dari semua lembaga kemasyarakatan.
3. Lembaga kemasyarakatan mempunyai alat-alat perlengkapan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan.
4. Lambang-lambang biasanya juga merupakan ciri-ciri yang khas dari lembaga kemasyarakatan.
Seorang
sosiologi di dalam menelah masyarakat, akan banyak berhubungan dengan
kelompok-kelompok sosial, baik yang kecil maupun kelompok sosial yang
besar. Sebagai sosiologi dia merupakan salah satu anggota kelompok
tersebut maupun sebagai seorang yang meneliti kehidupan kelompok secara
ilmiah.
Suatu
kelompok sosial tidak merupakan yang statis, akan tetapi selalu
berkembang serta mengalami perubahan-perubahan yang baik dalam aktivitas
maupun bentuknya. Suatu aspek yang menarik dari kelompok sosial adalah
bagaimana cara mengendalikan anggota-anggotanya.
Bentuk-bentuk
lapisan dalam masyarakat berbeda-beda, akan tetapi lapisan tersebut
tetap ada dalam masyarakat yang kapitalis, demokratis dan komunis.
Bentuk konkrit dari lapisan-lapisan di dalam masyarakat diklasifikasikan
ke dalam tiga macam kelas yaitu: ekonomis, politis dan yang didasarkan
pada jabatan-jabatan tertentu di dalam masyarakat. Umumnya ketiga bentuk
pokok tadi mempunyai hubungan yang erat satu sama lain.
Gotong
royong dalam menyelesaikan pekerjaan yang hasilnya akan dirasakan
bersama, maupun pekerjaan salah seorang warga desa atau dikenal sebagai
sambatan, serta musyawarah dalam memecahkan masalah bersama,
kedua-duanya merupakan contoh kerukunan dan keserasian hidup ini tidak
hanya terjadi antar manusia, dengan lingkungan hidupnya pun terjadi
hubungan yang serasi. Tidak pernah terjadi masalah pencemaran air atau
pengotoran udara merupakan bukti yang kuat adanya keserasian hubungan
antar manusia dengan alam lingkungannya.
Ciri umum lembaga kemasyarakatan desa adalah:
1. Lembaga
kemasyarakatan terdiri dari adat istiadat, tata kelakuan, kebiasaan
serta unsur-unsur kebudayaan lainnya yang secara langsung maupun tidak
langsung tergabung dalam suatu unit yang fungsional.
2. Lembaga kemasyarakatan memiliki satu atau beberapa tujuan tertentu.
3. Lembaga
kemasyarakatan biasanya juga berumur lama, karena pada umumnya orang
menganggap sebagai himpunan norma yang berkisar pada kebutuhan pokok
masyarakat yang sudah sewajarnya harus dipelihara.
4. Lembaga kemasyarakatan memiliki tradisi tertulis yang merumuskan tujuan tata tertib yang berlaku.
5. Lembaga kemasyarakatan memiliki ciri khas berupa lambang, yang menggambarkan tujuan dan fungsi lembaga yang bersangkutan.
6. Lembaga kemasyarakatan memiliki alat perlengkapan yang digunakan untuk mencapai tujuan lembaga.
B. Manfaat Sosiologi Pedesaan Bagi Masyarakat Pedesaan
Sosiologi
sebagai ilmu pengetahuan, tidak lain adalah seperangkat fakta sosial
yang terkristal dalam bentuk teori, konsep, cara pandang yang digunakan
sebagai tools atau pisau analisis untuk mencari dan menelusuri
kebenaran-kebenaran yang nampak (realitas) maupun tidak nampak
(peramalan) dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, sosiologi sebagai
ilmu pengetahuan, dapat ditelusuri secara hakekat dari aspek
epistimologi, ontologi, maupun aksiologi sebagai suatu pemikiran yang
konprehensif untuk menelusuri, mencari dan memperediksi gejala sosial
yang terjadi di masyarakat.
JF.
Ferrier merupakan seorang filsuf yang pertama kali melakukan pembedaan
antara ontologi dan epistimologi pada tahun 1854 (Hunnex, 2004).
Ontologi menurutnya adalah bagaimana mempertanyakan apa realitas yang
ada, sedangkan epistimologi merupakan teori pengetahuan yang menanyakan
dengan apa manusia bisa mengetahui. Adapun aksiologi lebih berbicara
tentang sumber nilai, yang di dalamnya terkandung epistimologi dan
ontologi secara bersamaan.
Dalam
bingkai di atas, Kattsoff (2004) dalam bukunya yang berjudul ”Pengantar
Filsafat” menguraikan empat paham untuk mengungkapkan cara manusia bisa
mengetahui suatu realitas (epistimologi). Adapun keempat teori yang
dimaksud, sebagai berikut:
1. Teori Koherensi (Coherence Theory),
yakni suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam
keadaan saling berhubungan dengan proposisi-proposisi lainnya yang
benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling
berhubungan dengan pengalaman kita. Atau dengan kata lain, paham ini
mengatakan bahwa derajat keadaan saling berhubungan merupakan ukuran
bagi derajat kebenaran, sedangkan keadaan saling berhubungan dengan
semua kenyataan memberikan kebenaran mutlak.
2. Teori Korespondensi (Correspondence Theory),
yakni suatu pernyataan itu benar jika makna yang dikandungnya
sungguh-sungguh merupakan halnya. Kebenaran atau keadaan berupa
kesesuaian antara makna yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan dengan
apa yang sungguh-sungguh merupakan halnya, atau apa yang merupakan
fakta-faktanya.
3. Teori Empiris (Empirist Theory), yakni memandang proposisi bersifat meramalkan (predictive) atau hipotetis dan memandang kebenaran proposisi sebagai terpenuhinya ramalan-ramalan.
4. Hylomorfisme,
yakni kejadian-kejadian sebagai bentuk kenyataan yang ada disekeliling
manusia terdiri dari bahan dan bentuk. Dengan kata lain, terdapat
esensi dan eksistensi dalam diri setiap manusia dalam membentuk
kenyataan yang ada disekelilingnya.
5. Positivisme
logis, yakni pandangan yang mendasarkan diri pada penalaran akal dan
semuanya memakai perangkat fakta yang sama sebagai landasan penopang
untuk menunjukkan kebenarannya. Dengan demikian, ontologi positivisme
logis meniadakan atau menolak segala bentuk yang berbau metafisika.
Slattery (2003) dalam bukunya yang berjudul ”Key Ideas in Sociology”
kembali menegaskan bahwa sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, dapat
dicermati dari beragam isu, meliputi ketertiban sosial dan perubahan,
kekuasaan dan penguasaan sosial, ketidak merataan dan stratifikasi
sosial.
Dari
semua itu, Slattery (2003), kemudian merangkumnya berdasarkan pandangan
dari tokoh sosiologi,
yakni:
1. Aguste
Comte, sebagai “bapak” sosiologi peletak positivisme berpendapat bahwa
sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang didasarkan pada logika
penalaran.
2. F. Tonnies dengan konsep “gemmeinschaft – gesselschaff” untuk mengkaji “The Lass of Communty in Industrial Society”, yakni studi tentang komunitas dan sosiologi masyarakat kota.
3. Robert Michels mengkaji tentang sosiologi kekuasaan, khususnya elit penguasa sebagai fokus utama sosiologi modern.
4. George Herbert Mead, peletak dasar teori interaksi simbiolisme.
5. E. W. Teller mengembangkan konsep kunci tentang perdebatan sosiologi industri.
C. Keadaan Umum Masyarakat Tani di Indonesia .
Hubungan
antar manusia memegang peranan penting dalam kehidupan manusia,
hubungan itu dapat terjadi dengan adanya interaksi yang beraneka ragam
pada kehidupan manusia dalam berbagai lingkup seperti lingkungan
keluarga, lingkungan sosial dan lingkungan organisasi
disekitarnya. Bentuk dari interaksi tersebut adalah kegiatan komunikasi.
Pada masyarakat pedesaan komunikasi dengan cara tatap muka merupakan
komunikasi yang efektif, selain sebagai ajang silaturrahmi komunikasi
itu dapat meningkatkan rasa persaudaraan diantara sumber dan penerima.
Namun masyarakat pedesaan yang mempunyai sanak saudara agak jauh dari
tempat tinggalnya, mereka cenderung tidak mengunjungi sanak saudaranya
setiap hari. Mereka hanya akan mengunjunginya jika ditempat sanak
saudaranya mempunyai hajatan yang besar seperti pernikahan. Hal itu
disebabkan biaya transportasi untuk ke tempat sanak saudaranya terlalu
banyak, padahal masyarakat pedesaan rata-rata penghasilannya tidak
besar.
Masyarakat
sebagai suatu sistem oleh Sajogyo (1971) terdiri dari bagian-bagian
yang saling berhubungan serta berintergrasi fungsional. Sistem yang
dimaksudkan terdiri dari pola-pola kebudayaan dan struktur sosial yang
selalu berada dalam keseimbangan dinamis, dalam artian bahwa integrasi
antar bagian-bagian tersebut tidak pernah tercapai secara penuh sehingga
masyarakat selalu dalam keadaan dinamis. Kehidupan masyarakat tidak
lepas dengan adanya interaksi antar individu dipedesaannya. Karena
dengan berinteraksi akan menimbulkan hubungan-hubungan yang dinamis dan
harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Telekomunikasi merupakan sarana
yang menunjang keberhasilan interaksi masyarakat pedesaan dalam
berkomunikasi. Dalam penerapan teknologi tersebut, masyarakat akan
mempunyai sikap dalam melihat teknologi yang masuk ke wilayah mereka.
Masyarakat akan memilih teknologi yang memberikan manfaat dan dampak
yang positif untuk kehidupan sehari-hari.
BAB III
METODELOGI PRAKTEK LAPANG
A. Waktu dan Tempat
Kegiatan
praktek lapang terpadu dilaksanakan pada tanggal 18 November sampai
dengan 20 November 2011, tepatnya di Desa Kanreapia Kecamatan Tinggi
Moncong Kabupaten Gowa.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktek lapang adalah:
1. Pulpen.
2. Kamera Digital.
3. Handphone (Hp).
Bahan yang digunakan dalam praktek lapang adalah :
· Buku;
· Kuisioner.
C. Metode Praktek Lapang
Metode yang digunakan dalam praktek lapang sosped adalah:
· Sediakan pulpen dan kuisionernya;
· Tanyakan kepada responden mulai dari nama, umur, tingkat pendidikan dan pengalaman berusaha tani serta jumlah keluarga;
· Tanyakan status kepemilikan lahan kepada petani tersebut;
· Tanyakan kepada petani bahwa jenis tanaman apa sajakah yang ditanam di lokasi tersebut;
· Tanyakan berapa hektar lahan yang dipakai oleh para petani dalam bercocok tanam;
· Tanyakan penghasilan mereka per panennya dan gaji per hari kepada buru tani;
· Berapa ton yang diperoleh dalam satu kali panen.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Keadaan Umum Lokasi Praktek
Berdasarkan
hasil keadaan umum di lokasi praktek yang kita ketahui, keseluruhan
penduduk di sana berjumlah 2.700 orang dan 80% diantaranya berpropesi
sebagai petani, 10% sebagai pedagang dan 10% sebagai pegawai, hasil ini
dapat kita ketahui berdasarkan informasi-informasi dari sejumlah
responden yang telah kita tanyakan pada saat kita melakukan praktek
lapang dan untuk lebih jelasnya lagi dapat kita lihat pada tabel berikut
ini:
No
|
Jumlah Penduduk
|
Jenis Tanaman
|
Jumlah Klp Tani
|
Status Masyarakat
|
Keadaan Lingkungan
|
1.
|
2.700 Orang
|
Kentang
|
1.000
|
80% Petani
|
Suhu 21°c - 25°c
|
2.
|
|
Wortel
|
5 Wanita
|
10% Pedagang
|
PH Tanah
|
3.
|
|
Daun Bawang
|
3 Pemuda
|
10% Pegawai
|
|
4.
|
|
Kubis
|
|
|
|
5.
|
|
Tomat
|
|
|
|
B. Keadaan Umum Petani Pedesaan
Keadaan
umum petani pedesaan dapat kita ketahui berdasarkan data-data dari
masing-masing responden yang telah kita temui di lokasi praktek lapang
dan untuk lebih jelasnya lagi dapat kita lihat pada tabel berkiut ini:
No
|
Nama
|
Umur
|
Tingkat Pendidikan
|
Pengalaman Bertani
|
Jumlah/Tanggungan Keluarga
|
1.
|
Titin
|
30 tahun
|
SMA
|
2 tahun
|
4 orang
|
2.
|
Sudirman
|
26 tahun
|
SD
|
10 tahun
|
3 orang
|
3.
|
Ida
|
35 tahun
|
SD
|
2 tahun
|
6 orang
|
4.
|
Ramli
|
42 tahun
|
SMP
|
14 tahun
|
4 orang
|
5.
|
Fendi
|
23 tahun
|
SMP
|
2 tahun
|
3 orang
|
6.
|
Irwan
|
32 tahun
|
SMP
|
2 tahun
|
2 orang
|
7.
|
Hamka
|
33 tahun
|
SMA
|
6 tahun
|
4 orang
|
8.
|
Fauzia
|
35 tahun
|
SMA
|
7 tahun
|
2 orang
|
9.
|
Dahlia
|
30 tahun
|
-
|
20 tahun
|
5 orang
|
10.
|
Zaid
|
50 tahun
|
SMA
|
15 tahun
|
4 orang
|
11.
|
Lajuma
|
43 tahun
|
SD
|
4 tahun
|
6 orang
|
12.
|
Umar
|
45 tahun
|
SD
|
25 tahun
|
3 orang
|
13.
|
Raga
|
45 tahun
|
SD
|
1 tahun
|
4 orang
|
14.
|
Abd. Haliq
|
35 tahun
|
SMA
|
20 tahun
|
1 orang
|
15.
|
Mina
|
30 tahun
|
-
|
14 tahun
|
5 orang
|
16.
|
Tambi
|
27 tahun
|
SMP
|
3 tahun
|
2 orang
|
17.
|
Sakkir
|
28 tahun
|
SMP
|
5 tahun
|
3 orang
|
18.
|
Limpo
|
42 tahun
|
-
|
20 tahun
|
4 orang
|
19.
|
Japar
|
30 tahun
|
SMA
|
8 tahun
|
2 orang
|
20.
|
Taming
|
34 tahun
|
SMA
|
14 tahun
|
5 orang
|
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Masyarakat
Malino dengan jumlah penduduk 2.700 orang tidak ada yang menjadi
pengangguran karena mereka bekerja sebagai tuan tani dan ada pula yang
bekerja sebagai buruh tani.
B. Saran
Berdasarkan
kesimpulan di atas maka penulis menyaranka agar pada saat pembudidayaan
tanaman sayur-sayuran jangan terlalu banyak menggunakan pupuk kimia dan
jangan pula menggunakan media tumbuh yang keras karena sulit untuk
menyerap air.
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Rahardjo, M. Dawan. 2006. Menuju Indonesia Sejahtera: Upaya Konkret Pengentasan Kemiskinan. Jakarta: Pustaka LP3ES
Salam, Dharma Setyawan. 2007. Otonomi Daerah: Dalam Perspektif Lingkungan, Nilai, dan Sumber Daya. Jakarta: Djambatan.
Sham, Tuti T dan Sam M. Chan. 2006. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Rangkuti, Parlaungan adil. 2007. Membangun Kesadaran Bela Negara. Bogor: IPB Press.
Pattimura, Luthfi. 2001. Manajemen Otonomi Daerah. Jakarta: Pustaka LSKPI.